Senin, 18 Agustus 2008

P2KB nie..

Terlepas dari satatusnya yang berada di bewah naungan Unesa, P2KB memang sudah membuktikan ‘kemandiriannya’ sebagai sebuah instansi. Bagaimana tidak, P2KB berdiri dan ‘melangsungkan hidupnya’ itu bersaal dari biaya sendiri yang dipungut dari iuran mahasiswanya. Kemudian sistem ICT nya, P2KB jauh lebih unggul dibandingkan dengan fakultas ataupun instansi lain di Unesa. Inilah yang menjadi asset kebanggaan mereka. Contohnya saja KRS-online, kalau Unesa baru mengawalinya pada semester gasal 2008, P2KB telah menerapkannya sejak tahun tahun 2001, ketika masih berbentuk yayasan Pembina.

Selain fasilitas hotspot yang disediakan, P2KB juga memiliki delapan buah lab komputer yang terinntegrasi dalam sistem jaringan (LAN) dan dapat digunakan mahasiswa secara gratis. Selain itu, pada awal penerimaan mahasiswa baru, para mahasisaw baru tersebut diberikan fasilitan log-in, password untuk perkuliahan secara online. P2KB juga memberikan fasilitas hardisk (yang pada awal kuliah diberi sebesar 10 MB) kepada mahasiswanya untuk menyimpan data-data perkuliahan.

Untuk urusan akademik dan kepentingan yang berkaitan dengan fasilitas perkuliahan lainnya, P2KB menggunakan sisitem jaringan intranet, dan bukannya internet yang dapat diakses oleh sembarang orang. Untuk hal yang satu ini, Pak Ahmad Fauzi, Koordinator IT menjelaskan alasannya, “ya..kalau pakai internet, sistemnya sini bisa diobok-obok.” Meskipun menggunakan intranet, P2KB justru lebih unggul dalam hal ICTnya dan pantas diberikan sebuah penghargaan sebagai Cyber Campus.

Intranet P2KB menyediakan berbagai fasilitas. Yang pertama adalah fasilitas bidang akademik. Intranet bidang akademik ini meliputi pendaaftaran dan registrasi mahasiswa percawu, administrasi keuangan, administrasi akademik, jadwal kuliah, absensi, data mahasiswa, KRS-online, administrasi nilai, hingga administrasi ujian yang kesemuanya itu tergabung dalam Sistem Informasi Akademik P2KB (SIAP). Untuk ujian beberapa mata kuliah tertentu memang dilakukan secara online yang diset sesistematis mungkin. Contohnya, soal tak dapat diakses sebelum waktu pengerjaan yang telah diset mulai. Juga mengenai jawaban soal, tak akan dapat dikirim lagi setelah waktu ujian habis.

Yang kedua adalah intranet bidang umum. Intranet dalam bidang umum ini memiliki fasilitas seperti e-books. Koleksi tutorial dalam e-books ini merupakan buku-buku penunjang (umum) yang berisi pengetahuan tambahan bagi mahasiswanya. Sedangkan mahasiswa yang senang menulis (cerpen, puisi, atau artikel), ataupun ingin mengakses berita, P2KB menyediakan sharing file (sharing tutorial). Pada fasilitas ini artikel atau tulisan lain yang ditulis mahasiswa pada wadah ini, serta berita-berita terkini dapat dilihat dan dibaca secara online. Beberapa fasilitas lain adalah private massage dan info kampus (kegiatan kampus, lowongan kerja, dll) yang juga dapat diakses secara online.

Fasilitas yang tak kalah canggih dalam sistem intranet P2KB ini adalah Streaming Media. Dalam Streaming Media banyak program hiburan yang dapat dinikmati. Contohnya musik, film, dan acara lainnya. Tak jarang bila ada even-even besar, contohnya pertandingan Piala Dunia atapun Piala Eropa dapat dishare-kan ke semua komunitas P2KB melalui seluruh komputer yang ada disana.

Ditanya mengenai kendala, Pak Ahmad Fauzi, Koordiantor IT P2KB menjelaskan bahwa hingga saat in itak ada kendala yang berarti (untuk masalah IT). Masalah virus-virus yang sering menjangkit komputer sudah dapat diatasi oleh antivirus yang mereka miliki. Namun memang virus-virus buatan mahasiswa sendiri itulah yang sering tidak ter-detect oleh antivirus yang ada. “Tapi ya.. nggak sampai mengganggulah.” Begitu penjelasan beliau pada kami. Untuk rencana ke depannya, Pak Ahmad Fauzi menjelaskan dengan singkat, “rencananya ya.. kita akan meningkatkan mutu dan kualitas.”

Sabtu, 09 Agustus 2008

Hatiku...

YADEIN…

Atas nama cinta..

Cinta memang ada,

Dan aku mencintainya

Tapi apakah sebenarnya cinta itu??

Untukku kah?

Atau tak akan pernah ada???

Aku mengerti keadilan

Keikhlasan..

Namun kembali lagi ku bertanya,

Apakah sebenarnya keadilan, keikhlasan itu??

Ketika kau meraba

Apa yang kau rasa?

Apa??

Alpha…

Rasa

Asa

Nafsu

Cinta,

Cinta lagi..

Atas nama cinta..

Cinta..

Percayalah…

Cinta…

Cinta…

Aku sudah mulai merasakan rapuh, cintaku padamu. Aku harus menjelaskan apa lagi??? Cinta? Sayang? Cinta yang mana? Sayang yang mana?? Apa yang harus aku jelaskan pada R, M, F, D, A, I, dan semua?? Cinta? Sayang? Bahkan aku tak mampu meraba lagi semua itu. Aku tak sanggup lagi melukis, menggambar, bahkan mengukirkan namamu pada mereka…

Hhhh…cinta itu apa?? Apakah itu yang kau sebut cinta?? Cinta yang rela mengkhianati?? Membohongi? Yang hidup dalam kemunafikan?? Kalau begitu, cintaku ini bukan cinta…

Karena Cintaku dulu tak mengenal sakit, walau selalu kau sayatkan belati.. demi cinta, atas nama cinta, aku terus berlari menjual harga diriku untukmu.. untuk membeli permata hatimu. Cintaku dulu rela mengalah, memutihkan hitammu yang suci..

Yadein…

Kenangan itu menjadi kenangan indah. Sebuah kebahagiaan yang pernah aku dapatkan.. bukan lagi sebuah kenangan pahit yang harus aku ratapi dan aku hancurkan…

Kenangan indah,

Kenangan indah…

Yadein

Indah…

Ditepi pantai… senyuman pertama itu untukku. Hingga tak dapat aku merasakan, aku melayang..

Kecupan di kening itu, untukmu…

Untukmu…

Dekapanmu…??

Seharusnya itu tulus, harusnya…

Di tepi pantai,

Tanpa memperdulikan lalu lalang orang

Ku kecup kening itu

Pelukan mesra kita berdua…

Tanpa memperdulikan malam,

Orang-orang,

Dan desir pantai

Sungguh cinta

Yang membuat ketika itu

Kita larut

Sungguh tak tahu malu.

Pelukan pertama,

Dekapan pertama,

Senyuman pertama,

Genggaman pertama,

Bahkan gandengan tangan pertama.

Masih ingatkan? Ketika itu….??

Semua mata tertuju pada kita

Di sebuah college

Tempatku mengadu nasib dan berjuang

Tak ada waktu lagi untuk tak bersama

Kita akan selalu berdua, tanpa mendua

Tertawa, bahagia bersama…

Setiap saat kau mengawasiku, menjajikan aku bahagia…

Kau cemburu, mencemburui setiap tawaku..

Bersama

Bersama…

Hanya itu yang paling aku ingat darimu..

Terima kasih…

Dan ingatlah, ketika pagi buta itu, kau mengejarku atas nama cinta. Tak ingin aku bersedih, tak ingin aku sakit, tak ingin aku menangis

Tak akan kau biarkan dulu aku bersedih, apalagi menangis sendu.. semua itu untuk aku. Untukku…

Yadein…

Ingatkah kau ketika tidur dipelukku??

Ingatkah kau kita menatap langit,

Memandang bulan yang bulat

Mendengarkan lagu cinta..

This is for you:

Menatap indahnya senyuman, di wajahmu, membuatku terdiam dan terpaku.. mengerti akan hadirnya cinta terindah, saat kau peluk mesra tubuhku… banyak kata, yang tak mampu ku ungkapkan, kepada dirimu….

Aku ingin engkau selalu… hadir dan temani aku… di setiap langkah yang meyakiniku, kau tercipta untukku…

Meski waktu akan mampu memanggil seluruh ragaku, ku ingin kau tahu, ku selalu milikmu yang mencintaimu…. Sepanjang hidupku…

YADEIN…

PUISIKU....

“YADEIN”

(Bahasa India: Kenangan)

Sebutir..

Yang tlah hilang,

Yang tak mungkin lekang..

Dalam hati sang perawan..

Mempertanyakan..

Dirinya yang

Terampas hilang

Belahan jiwa

Di masa silam…

Bukan mempertanyakan hatinya,

Kehormatannya…

Namun nafasnya,

Hidupnya….

Yang dikekang,

Tak ingin pulang…

Dan Bukanlah mempertanyakan hatinya,

Kehormatannya…

Namun nafasnya,

Hidupnya…

Bersama jiwa

Dan kenangan..

Madura, 20 juli 2008

PUISIKU....

“AYAH”

Luluh, leleh nyawaku

Bersama Lumpur biru

Yang memendam dirimu..

Aku menyesal,

Mengapa hanya Tuhan yang tahu,

Tentang engkau juga aku…

Kaulah satu,

Satu dari semua

Yang walau tak pernah

Mereka atau aku tahu,

Betapa hebat dirimu…

Ika. N/ SRN’ 07

“PEREMPUAN – PEREMPUAN TERNODA”

Dan..

Dia tercipta

Dengan lekukan – lekukan indah,

Dan tonjolan – tonjolan

Yang merekah, mempesona dan menggoda

Lalu paras yang serupa mawar merah

Suci itu, melati diragamu

Dan kehormatan adalah nyawamu

Dan birahi – birahi

Iblis – iblis hitam,

Yang meraung,

Mencuri madumu

Yang menyisihkan

Sorak – sorak kepedihan

Dengan senyum kehancuran

Perempuan – perempuan

Ternoda…

Yang tertawa

Dalam kehancurannya,

Yang tersenyum

Menunggu matinya

Dari garangnya

Binatang – binatang

Seperti,

Pria…

Ika. N/ SRN’ 07

“SCARVIN”

Aku yang lelap

Dalam gulitanya

Malam kelam yang terjaga

Tanpa ada nama dan nafas

Yang tak sekali ku kenal

Dan sempatnya mengalir

Dalam urat- urat nadiku

Sosok yang ku lihat

Pria gagah dan selayaknya

Ia tampan dan hatinya ada padaku

Yang menyayangi dan menggenggam tanganku

Scarvin…

Mimpiku,

Dalam cincin yang tak sempatnya ku kena

Ika. N/ SRN’ 07

“RAHASIA HATI”

Bila angkasa berani menertawaiku,

Biasanya ku tikam

Penuh seluruh birunya

Karena aku tak ingin

Menyebar sedih untuknya

Aku yang yang menghamba padanya

Menginginkan bahagia

Atas derita demam fana.

Melihat lagi aku birunya,

Akan memantul di laut biru,

Di laut itu,

Aku hidup….

Ika. N

Cerpenku...

“RUFAH …”

Siti Aminah kini akhirnya menyetujui dari sekian pilihan anaknya yang terdahulu sebagai calon suami. Bagus yang baik, kaya, dan berpendidikan tinggi itu telah sangat memenuhi kriterianya sebagai calon menantunya kelak. Maklum bila Aminah menetapkan target dan kriteria yang begitu tinggi untuk calon menantunya kelak, karena dia berpikir Rufah pantas untuk mendapatkan yang lebih baik. Pikirnnya, Rufah itu cantik, jadi pantas bila mendapat suami yang selain tampan juga kaya, karena mereka dari keluarga yang kurang mampu, buntunglah bila mendapat menantu yang miskin juga. Perlahan Rufah masuk ke dalam rumahnya, memasuki dapur, sambil tertunduk ragu dia memanggil ibunya pelan, “Bu, aku..aku..aku ingin mengenalkan ibu dengan teman priaku bu. Sekarang dia ada di ruang tamu bu, sedang menunggu ibu. Namanya Bagus, dia pria yang baik.” “Ah, tak usahlah kamu banyak cakap. Aku ingin lihat temanmu itu. Aku ingin optimis kali ini, apakah bisa ?? siapa dia itu, aku akan menemuinya. Apakah dia memenuhi kriteriaku ?”katanya dengan remeh.

Aminah segera membersihkan tangannya yang kotor dan cemong sehabis memasak itu. Lalu pergilah dia menemui Bagus di ruang tamu, yang meski sebenarnya tak tampak seperti ruang tamu yang kebanyakan dimiliki orang umunya, hanya terdapat dua kursi plastik, satu meja, dan sebuah benda yang serupa meja, namun ukurannya lebih panjang dan lebar menyerupai dipan kecil, yang memang disitulah Rufah ataupun Aminah terkadang tidur melepas lelah. Aminah membentengi dirinya dengan wajah yang seolah menggambarkan dirinya orang yang ketus, galak, dan jahat, “Kkhhhmmm…ada perlu apa kau kemari ? siapa namamu ? punya apa kau hingga berani mendekati putriku ? keberanian apa yang membuatmu datang kemari ?”katanya sinis. Sejenak hal itu sungguh mempengaruhi konsentrasi Bagus, ternyata dia dapat juga merasa takut pada Aminah meski hanya sedikit, setelah tertunduk ragu saat menatap wajah Aminah, akhirnya Bagus menjawab juga semua pertanyaan Aminah itu, “Nama saya Bagus bu, saya menyukai putri ibu, sebenarnya saya juga tidak tahu apakah harta saya yang sedikit lebih banyak daripada tuan tanah di desa ini dapat membahagiakan Rufah. Saya hanya lulusan S1 Manajemen di sebuah Universitas swasta di Jakarta bu.”tegasnya pada Aminah.

Mata Aminah membelalak mendengar semua yang diucapkan oleh Bagus. Matanya yang sejak awal tadi menatap tajam dan sinis pada Bagus, kini berubah menjadi teduh dipandang, dan rasanya baru kali ini Aminah rela membagi senyumnya pada orang lain sebegitu tulusnya. “Iya..iya.. ibu mengerti maksud nak Bagus. Sebenarnya memang ibu sudah yakin kalau nak Bagus ini orangnya baik, dan bertanggung jawab. Saya sudah tahu hal itu sejak Rufah memperkenalkan nak Bagus tadi pada saya, dan setelah saya melihat nak Bagus sendiri, saya menjadi lebih yakin nak.”rayunya pada Bagus. Dan Rufah pun kini amat lega, karena akhirnya satu pilihan terakhir dalam hidupnya ini disetujui oleh ibunya, satu–satunya orang tuanya kini.

Meski ibunya sungguh materialistis, toh Rufah dan Bagus mengerti. Mereka jalani hubungan mereka tanpa hambatan. Hingga dua bulan kemudian mereka memutuskan untuk bertunangan dan menikah. Akad nikah dilakukan di rumah mempelai pria, dan resepsi pernikahan mereka dirayakan di sebuah GOR yang tak jauh dari rumah Bagus. Sungguh perayaan yang fantastis bagi Aminah, dia belum pernah merasakan berada dalam sebuah pesta yang sebegitu meriahnya yang menelan biaya puluhan juta. Maka tentramlah hidupnya kini, selesai sudah amanat yang dijalankannya dalam membesarkan Rufah. Bersenang – senanglah dia di rumah hanya dengan menunggu kiriman uang dari anaknya setiap bulan.

Selama setengah tahun ini Aminah memang selalu mendapat kiriman uang dari anaknya Rufah, namun sungguh tak mengerti dia bagaimana keadaan anaknya di rumah suaminya itu. Sungguh menderita ia, tak seperti yang dibayangkan ibunya selama ini. Untuk meminta jatah uang bulanan untuk ibunya saja dia harus rela menjadi buruh di perusahaan tepung milik keluarga suaminya itu. Dia menjadi buruh angkut, mengangkuti karung – karung beras ke tempat penggilingan, menjadi penggiling tepung, sekaligus juga cleaning servise. Semuanya itu merupakan persayaratan yang harus dilakukan olehnya untuk mendapatkan uang bulanan yang selalu dikirimkannya kepada ibunya. Selama pernikahan, di rumah suaminya itu, dia selalu dicaci maki, didera dan disiksa oleh suami, ibu mertua, dan kakak iparnya. Dan baru diketahuinya, bahwa Bagus tak pernah mencintainya, dia hanya ingin merenggut keperawanannya saja. Bagus dendam kepada Aminah ibu Rufah yang begitu materialistis dan sombong. “Dengarlah Rufah..sesungguhnya aku tak pernah mencintaimu dengan tulus. Aku hanya mencintai wajah dan tubuhmu. Kamu memang sangat cantik, tak sembarang orang dapat memilikimu. Karena itu aku jadi tertarik padamu, dan tubuhmu yang menggairahkan bagiku. Hahahahahahahaha....”jelas Bagus dengan murka pada Rufah.

Tak habis sampai disitu, mas Arfan selaku suami kakak iparnya memperkosanya. Rufah diancamnya, sehingga Rufah pun tak berdaya meratapi nasibnya. Rufah sedang sakit dan tak masuk kerja saat itu. Arfan memberanikan diri masuk ke kamar Rufah setelah dia yakini istrinya telah pergi belanja di Mall dan tidak adalah orang di rumah selain dia dan Rufah yang sedang sakit. Rufah tertidur lelap, dia tak menyadari ada orang yang masuk kamarnya dengan niat yang begitu jahat. Arfan mulai menggerayangi tubuh Rufah dari bagian bawah hingga atas. Arfan membuka selimut yang melekat pada tubuh Rufah saat itu. Tak pikir panjang lagi, Arfan segera berusaha melancarkan aksinya itu. Rufah terkejut dan berontak, “Mas Arfan…mas mau ngapain ?? jangan mas..jangan…ingat kak Intan mas..jangan mas…jangan…tolong…tolong…!!” “Hahahaha…sayangnya aku tak perduli dengan istriku karena dia pergi belanja ke Mall dan tidak ada orang di rumah sekarang. Dengar, jika kau tak menurutiku, aku akan memfitnahmu di depan mereka, bahwa kau yang merayuku, dan setelah itu aku akan membunuhmu bodoh….”jawab Arfan. Maksud hati ingin sekali untuk tak mengkhianati pernikahan dan suami yang meski tak pernah mencintainya, namun apa daya, kehormatan itu telah terenggut oleh suami kakak iparnya sendiri.

Beberapa kali perbuatan itu dilancarkannya pada Rufah dengan begitu rapi hingga tak ada yang tahu. Meskipun bangkai disimpan atau disembunyikan rapat – rapat, cepat atau lambat, baunya akan tercium juga. Analogi ini serupa dengan apa yang dialami Rufah. Perbuatan mas Arfan kakak iparnya itu terbongkar juga oleh ayah mertuanya. Santoso mertua Rufah memergoki Arfan ketika hendak melancarkan aksinya lagi pada Rufah di kamar Rufah. Keterkejutan yang luar biasa dirasakan oleh ayah mertua Rufah itu, hingga amarah pun tak sanggup dibendung. Santoso memaki menantu lelakinya itu. Namun naas bagi Rufah, setelah habis–habisan mencaci maki kedua menantunya itu, Santoso balik mengancam Rufah dan Arfan. Dia akan mengatakan sebenarnya pada semua dan mengusir mereka berdua tanpa uang sedikit pun bila mereka berdua tak menuruti permintaannya. Permintaan Santoso tak kalah bejat dengan apa yang dilakukan menantunya Arfan, Santoso juga ingin meniduri Rufah. Maka jadilah Arfan menyetujui persyaratan dari ancaman itu. Rufah hanya diam, menunduk, dan titik demi titik air matanya jatuh.

Begitulah secara beruntun peristiwa pahit yang dialami Rufah bergulir. Tak ada kekuatan untuk melawannya. Dia merasa tak berdaya. Hingga suatu hari ketika kemelut ini semakin berat dia rasakan, dia memutuskan untuk pergi dan meminta cerai pada suaminya. Di kamar itu Rufah menyatakan isi hatinya yang sungguh tak mampu menahan segala deraan ini, “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu mas, aku mohon mas, aku mohon ceraikan aku, ceraikanlah aku dan menikahlah kau dengan wanita lain yang lebih engkau cintai. Aku sudah tak sanggup menjalani semuanya seperti ini. Aku bersedia pergi dari rumahmu dan aku lebih baik mati bila kau tak mengabulkan permintaanku ini. Aku benar – benar tak sanggup. Dan aku rela engkau ceraikan.”pinta Rufah dalam tangisnya malam itu. Sungguh sesuatu yang aneh untuk Rufah, seisi rumah yang mengetahui niat dan pinta Rufah itu menolak dan melarang keras Rufah pergi dari rumah setelah Bagus menyampaikan niat Rufah pada keluarganya. Mereka semua tak mengizinkan Rufah untuk pergi dan bercerai dari Bagus suaminya. “Hei…Rufah, sombong sekali kau meminta hal itu pada suamimu. Memangnya siapa dirimu, berani memiliki gagasan seperti itu. Tidak ingatkah kau berapa biaya yang kami keluarkan untuk biaya pernikahanmu dengan Bagus yang merupakan permintaan ibumu itu, hahh…?? Kami tidak akan mengabulkan pintamu itu. Kau harus membayar semua biaya yang pernah kami keluarkan. Makanya kami menjadikan kau buruh di pabrik tepung kami.”jelas Rina, ibu Bagus dengan pedas pada Rufah yang menyembah kaki Bagus saat itu.

Malam begitu sunyi ketika semua telah terlelap dan Rufah sedang merenung, meratapi nasibnya. Suara pintu yang terbuka terdengar olehnya, ternyata dialah sang suami yang selama beberapa bulan ini tak memberikan sedikitpun kasih sayang untuknya kecuali pada malam pertama pernikahan mereka. Bagus menghampiri Rufah, dengan lembut dia bersikap pada Rufah, dia meminta maaf atas segala kesalahannya. Dengan kelembutannya dia berhasil membujuk Rufah untuk berhubungan badan lagi dengannya. Malam hampir berlalu, setelah puas dengan apa yang ingin dilakukannya, Bagus meninggalkan Rufah begitu saja. Rufah seolah dan mungkin dianggapnya sebagai pelacur atau istri simpanan yang harus dapat menanggung resiko bila dia akhirnya ditinggalkan. Bagus pergi dari rumah, entah hendak kemana dia. Rufah mungkin kini lebih kebal, tangisannya yang hanya setitik itu menggiringnya hingga terlelap tidur.

Tak lama berselang, tiba- tiba telah ada pula tangan yang memeluk tubuhnya lagi. Dia merasakan kehangatannya, berharap bila itu adalah Bagus. Namun sungguh dugaan yang salah, karena itu bukan bagus, melainkan mertuanya sendiri. Rufah membalikkan badan dan berteriak terkejut. Tangan Santoso membekapnya, dan tak ragu lagi untuk segera melancarkan aksi bejatnya itu. Malam itu menjadi hari yang benar – benar hari paling berat untuk Rufah. Rufah tak ingin pikir panjang lagi, setelah mertuanya itu pergi dari kamarnya, Rufah segera mengemas barang – barangnya. Dia lompat keluar dari jendela kamarnya, dia kabur dari neraka itu.

Malam menjadi begitu pekat, Rufah berlari ketakutan, nafasnya putus – putus. Dia menjejaki dan mengamati sudut demi sudut, mencari artefak – artefak peninggalan bau ibunya, dia mencari dimana rumahnya. Dia berjalan lurus kini, tak ingin menengok kebelakang, dia menemukan rumahnya yang tampaknnya lebih bagus dari beberapa bulan yang lalu. Rufah masuk dalam rumahnya, tampaknya memang tak dikunci oleh ibunya. Dia tiba – tiba terkejut mendapati ibunya yang tidur diruang tengah beralaskan tikar. Rufah menangis disamping ibunya, ibunya terbangun, “Ibu…ibu..kenapa ibu tidur beralaskan tikar seperti ini ? bukankah Rufah telah mengirimkan uang pada ibu setiap bulannya untuk keperluan ibu sehari – hari. Tapi kenapa rumah kita seperti ini bu, ibu tampak kurus, dan mengapa tiada lagi terlihat harta benda yang sedikit berharga disini ? ibu kenapa bu ?”sambil menangis, dia memeluk ibunya. Ibunya tak sungkan untuk mengatakan sebenarnya, bahwa dirinya kalah bermain judi dan kini berhutanglah dia pada Tuan Selamet. “Maafkan..maafkan ibu nak !! uang yang kau kirim itu memang ibu gunakan untuk keperluan ibu, untuk membeli barang – barang berharga juga, tapi kemudian sisanya, tidak ibu tabung, ibu gunakan untuk bermain judi. Dan ibu kalah judi nak. Ibu berhutang pada Tuan Selamet, ibu belum bisa membayarnya. Barang – barang yang kita miliki tak sanggup untuk menggantinya. Lalu, ada appa denganmu nak ?? mengapa kau pergi ke rumah ibu. Kau juga tak berbeda. Apa yang terjadi nak ?” Rufah menceritakan semua yang dia alami kepada ibunya. Dan jadilah mereka menangis pilu semalam berdua.

Paginya, setelah semalam Rufah tertidur lelap karena tak sanggup menahan letihnya, datanglah seseorang yang memang sangat ditakuti kedatangannya oleh Aminah. Selamet datang bersama dua algojonya, meminta Aminah untuk melunasi hutang – hutangnya, karena batas waktu yang telah diberikan Selamet telah jatuh tempo. Selamet begitu menggebu mengeluarkan segala amarah yang ada dalam hatinya. Aminah ketakutan, namun satu hal lagi akhirnya yang tak dapat disangka dan dinyana oleh Rufah. Ibunya segera menawarkan jasa barter pada tuan Selamet. Aminah rela menukarkan anaknya sebagai tebusan dari segala hutang – hutangnya, dan dia berjanji akan segera membayarnya, sehingga anaknya pun segera pulang kembali bersamanya, “Mmmmaa…maafkan saya tuan..!! saya janji akan segera melunasi hutang – hutang saya dalam waktu dekat. Beri saya waktu sedikit lagi tuan…”mohon Aminah pada Tuan Selamet. “Sayangnya kali ini aku tidak dapat mengabulkan permohonanmu Aminah. Sudah cukup aku memberikan banyak waktu padamu untuk melunasi hutang – hutangmu. Tapi kau licik ! kau tak pernah beritikat baik untuk melunasi hutang – hutangmu. Kini aku akan melelang gubukmu ini pada orang lain, dan bila tak ada yang berminat untuk membelinya, aku akan membakarnya dank au akan aku pekerjakan di rumahkku. Atau sekalian saja aku bunuh.”murka Selamet. Aminah segera menyembah kaki tuan Selamet, “Ampun tuan..ampun… jangan lakukan itu tuan… tapi, apakah anak saya dapat menggantikan saya ?”kata Aminah. “Apa maksudmu ?”tanya Selamet. “Maksud saya, apakah anak saya bisa dijadikan sebagai benda untuk mengganti hutang – hutang saya pada tuan ? saya akan menebusnya jika saya telah mendapatkan uang.” Usul Aminah itu dikabulkan oleh Tuan Selamet.

Rufah hanya terisak, tangisannya tersendat – sendat. Barangkali hanya mengelus dada yang paling dapat ia lakukan. Entah bodoh atau memang wataknya yang tak jauh dari ibunya yang bejat itu, Rufah rela pula dibawa dua algojo Selamet. Hingga itu, Aminah tak berminat lagi untuk melunasi hutang – hutangnya pada Selamet. Entah bagaimana nasib Rufah ditangan Selamet itu. Namun tak kalah naas untuk Aminah. Bagus dan keluarganya mencari Rufah ke rumah Aminah. “Hei Aminah..dimana Rufah anakmu kau sembunyikan ? dia telah kabur dari rumahku, tanpa seizinku. Cepat katakan dimana Rufah, Aminah ?”bentak Bagus pada Aminah. Aminah bercerita semuanya pada Bagus, namun Bagus tak menanggapinnya. Toh tiada rotan, akar pun jadi, pikirnya. Bagus membawa Aminah ke rumahnya, Aminah diperlakukan layak Rufah sewaktu dulu. Namun Aminah dipekerjakan lebih keras meski umur dan kesehatannya tak memungkinkan. Bagus tak perduli. Dua bulan Aminah bekerja menjadi buruh diperusahaan keluarga Bagus, hingga suatu hari Aminah tak sanggup lagi menahan hidupnya. Dia menghembuskan nafas terkhirnya ketika dia tak sanggup lagi untuk menahan rasa laparnya semenjak dua hari sebelumnya dia hanya makan sepiring nasi tanpa lauk di rumah Bagus.


Selasa, 29 Juli 2008

Hatiku..

"ABSTRAKSI CINTA"


Cinta ini tak dapat lagi ku tulis…

Cinta ini begitu sunyi,

Dingin – membeku

Rasa ini,

Tak terbentuk

Puing-puingnya pecah,

Semakin pecah…

Mengungkapkan darah

Menggambarkan merah

Meretaskan peta rahasia yang tak dapat ku baca…

Mendengarmu,

Cinta itu,

Aku lirih..

Membelaimu,

Di sela bayang-bayangku sendiri

Aku rindu

Merindumu, namun rapuh..

Rapuh…

Perih dalam hati yang tlah mati….

MADURA, 20 juli 2008

Minggu, 27 Juli 2008