“RUFAH …”
Siti Aminah kini akhirnya menyetujui dari sekian pilihan anaknya yang terdahulu sebagai calon suami. Bagus yang baik, kaya, dan berpendidikan tinggi itu telah sangat memenuhi kriterianya sebagai calon menantunya kelak. Maklum bila Aminah menetapkan target dan kriteria yang begitu tinggi untuk calon menantunya kelak, karena dia berpikir Rufah pantas untuk mendapatkan yang lebih baik. Pikirnnya, Rufah itu cantik, jadi pantas bila mendapat suami yang selain tampan juga kaya, karena mereka dari keluarga yang kurang mampu, buntunglah bila mendapat menantu yang miskin juga. Perlahan Rufah masuk ke dalam rumahnya, memasuki dapur, sambil tertunduk ragu dia memanggil ibunya pelan, “Bu, aku..aku..aku ingin mengenalkan ibu dengan teman priaku bu. Sekarang dia ada di ruang tamu bu, sedang menunggu ibu. Namanya Bagus, dia pria yang baik.” “Ah, tak usahlah kamu banyak cakap. Aku ingin lihat temanmu itu. Aku ingin optimis kali ini, apakah bisa ?? siapa dia itu, aku akan menemuinya. Apakah dia memenuhi kriteriaku ?”katanya dengan remeh.
Aminah segera membersihkan tangannya yang kotor dan cemong sehabis memasak itu. Lalu pergilah dia menemui Bagus di ruang tamu, yang meski sebenarnya tak tampak seperti ruang tamu yang kebanyakan dimiliki orang umunya, hanya terdapat dua kursi plastik, satu meja, dan sebuah benda yang serupa meja, namun ukurannya lebih panjang dan lebar menyerupai dipan kecil, yang memang disitulah Rufah ataupun Aminah terkadang tidur melepas lelah. Aminah membentengi dirinya dengan wajah yang seolah menggambarkan dirinya orang yang ketus, galak, dan jahat, “Kkhhhmmm…ada perlu apa kau kemari ? siapa namamu ? punya apa kau hingga berani mendekati putriku ? keberanian apa yang membuatmu datang kemari ?”katanya sinis. Sejenak hal itu sungguh mempengaruhi konsentrasi Bagus, ternyata dia dapat juga merasa takut pada Aminah meski hanya sedikit, setelah tertunduk ragu saat menatap wajah Aminah, akhirnya Bagus menjawab juga semua pertanyaan Aminah itu, “Nama saya Bagus bu, saya menyukai putri ibu, sebenarnya saya juga tidak tahu apakah harta saya yang sedikit lebih banyak daripada tuan tanah di desa ini dapat membahagiakan Rufah. Saya hanya lulusan S1 Manajemen di sebuah Universitas swasta di Jakarta bu.”tegasnya pada Aminah.
Mata Aminah membelalak mendengar semua yang diucapkan oleh Bagus. Matanya yang sejak awal tadi menatap tajam dan sinis pada Bagus, kini berubah menjadi teduh dipandang, dan rasanya baru kali ini Aminah rela membagi senyumnya pada orang lain sebegitu tulusnya. “Iya..iya.. ibu mengerti maksud nak Bagus. Sebenarnya memang ibu sudah yakin kalau nak Bagus ini orangnya baik, dan bertanggung jawab. Saya sudah tahu hal itu sejak Rufah memperkenalkan nak Bagus tadi pada saya, dan setelah saya melihat nak Bagus sendiri, saya menjadi lebih yakin nak.”rayunya pada Bagus. Dan Rufah pun kini amat lega, karena akhirnya satu pilihan terakhir dalam hidupnya ini disetujui oleh ibunya, satu–satunya orang tuanya kini.
Meski ibunya sungguh materialistis, toh Rufah dan Bagus mengerti. Mereka jalani hubungan mereka tanpa hambatan. Hingga dua bulan kemudian mereka memutuskan untuk bertunangan dan menikah. Akad nikah dilakukan di rumah mempelai pria, dan resepsi pernikahan mereka dirayakan di sebuah GOR yang tak jauh dari rumah Bagus. Sungguh perayaan yang fantastis bagi Aminah, dia belum pernah merasakan berada dalam sebuah pesta yang sebegitu meriahnya yang menelan biaya puluhan juta. Maka tentramlah hidupnya kini, selesai sudah amanat yang dijalankannya dalam membesarkan Rufah. Bersenang – senanglah dia di rumah hanya dengan menunggu kiriman uang dari anaknya setiap bulan.
Selama setengah tahun ini Aminah memang selalu mendapat kiriman uang dari anaknya Rufah, namun sungguh tak mengerti dia bagaimana keadaan anaknya di rumah suaminya itu. Sungguh menderita ia, tak seperti yang dibayangkan ibunya selama ini. Untuk meminta jatah uang bulanan untuk ibunya saja dia harus rela menjadi buruh di perusahaan tepung milik keluarga suaminya itu. Dia menjadi buruh angkut, mengangkuti karung – karung beras ke tempat penggilingan, menjadi penggiling tepung, sekaligus juga cleaning servise. Semuanya itu merupakan persayaratan yang harus dilakukan olehnya untuk mendapatkan uang bulanan yang selalu dikirimkannya kepada ibunya. Selama pernikahan, di rumah suaminya itu, dia selalu dicaci maki, didera dan disiksa oleh suami, ibu mertua, dan kakak iparnya. Dan baru diketahuinya, bahwa Bagus tak pernah mencintainya, dia hanya ingin merenggut keperawanannya saja. Bagus dendam kepada Aminah ibu Rufah yang begitu materialistis dan sombong. “Dengarlah Rufah..sesungguhnya aku tak pernah mencintaimu dengan tulus. Aku hanya mencintai wajah dan tubuhmu. Kamu memang sangat cantik, tak sembarang orang dapat memilikimu. Karena itu aku jadi tertarik padamu, dan tubuhmu yang menggairahkan bagiku. Hahahahahahahaha....”jelas Bagus dengan murka pada Rufah.
Tak habis sampai disitu, mas Arfan selaku suami kakak iparnya memperkosanya. Rufah diancamnya, sehingga Rufah pun tak berdaya meratapi nasibnya. Rufah sedang sakit dan tak masuk kerja saat itu. Arfan memberanikan diri masuk ke kamar Rufah setelah dia yakini istrinya telah pergi belanja di Mall dan tidak adalah orang di rumah selain dia dan Rufah yang sedang sakit. Rufah tertidur lelap, dia tak menyadari ada orang yang masuk kamarnya dengan niat yang begitu jahat. Arfan mulai menggerayangi tubuh Rufah dari bagian bawah hingga atas. Arfan membuka selimut yang melekat pada tubuh Rufah saat itu. Tak pikir panjang lagi, Arfan segera berusaha melancarkan aksinya itu. Rufah terkejut dan berontak, “Mas Arfan…mas mau ngapain ?? jangan mas..jangan…ingat kak Intan mas..jangan mas…jangan…tolong…tolong…!!” “Hahahaha…sayangnya aku tak perduli dengan istriku karena dia pergi belanja ke Mall dan tidak ada orang di rumah sekarang. Dengar, jika kau tak menurutiku, aku akan memfitnahmu di depan mereka, bahwa kau yang merayuku, dan setelah itu aku akan membunuhmu bodoh….”jawab Arfan. Maksud hati ingin sekali untuk tak mengkhianati pernikahan dan suami yang meski tak pernah mencintainya, namun apa daya, kehormatan itu telah terenggut oleh suami kakak iparnya sendiri.
Beberapa kali perbuatan itu dilancarkannya pada Rufah dengan begitu rapi hingga tak ada yang tahu. Meskipun bangkai disimpan atau disembunyikan rapat – rapat, cepat atau lambat, baunya akan tercium juga. Analogi ini serupa dengan apa yang dialami Rufah. Perbuatan mas Arfan kakak iparnya itu terbongkar juga oleh ayah mertuanya. Santoso mertua Rufah memergoki Arfan ketika hendak melancarkan aksinya lagi pada Rufah di kamar Rufah. Keterkejutan yang luar biasa dirasakan oleh ayah mertua Rufah itu, hingga amarah pun tak sanggup dibendung. Santoso memaki menantu lelakinya itu. Namun naas bagi Rufah, setelah habis–habisan mencaci maki kedua menantunya itu, Santoso balik mengancam Rufah dan Arfan. Dia akan mengatakan sebenarnya pada semua dan mengusir mereka berdua tanpa uang sedikit pun bila mereka berdua tak menuruti permintaannya. Permintaan Santoso tak kalah bejat dengan apa yang dilakukan menantunya Arfan, Santoso juga ingin meniduri Rufah. Maka jadilah Arfan menyetujui persyaratan dari ancaman itu. Rufah hanya diam, menunduk, dan titik demi titik air matanya jatuh.
Begitulah secara beruntun peristiwa pahit yang dialami Rufah bergulir. Tak ada kekuatan untuk melawannya. Dia merasa tak berdaya. Hingga suatu hari ketika kemelut ini semakin berat dia rasakan, dia memutuskan untuk pergi dan meminta cerai pada suaminya. Di kamar itu Rufah menyatakan isi hatinya yang sungguh tak mampu menahan segala deraan ini, “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu mas, aku mohon mas, aku mohon ceraikan aku, ceraikanlah aku dan menikahlah kau dengan wanita lain yang lebih engkau cintai. Aku sudah tak sanggup menjalani semuanya seperti ini. Aku bersedia pergi dari rumahmu dan aku lebih baik mati bila kau tak mengabulkan permintaanku ini. Aku benar – benar tak sanggup. Dan aku rela engkau ceraikan.”pinta Rufah dalam tangisnya malam itu. Sungguh sesuatu yang aneh untuk Rufah, seisi rumah yang mengetahui niat dan pinta Rufah itu menolak dan melarang keras Rufah pergi dari rumah setelah Bagus menyampaikan niat Rufah pada keluarganya. Mereka semua tak mengizinkan Rufah untuk pergi dan bercerai dari Bagus suaminya. “Hei…Rufah, sombong sekali kau meminta hal itu pada suamimu. Memangnya siapa dirimu, berani memiliki gagasan seperti itu. Tidak ingatkah kau berapa biaya yang kami keluarkan untuk biaya pernikahanmu dengan Bagus yang merupakan permintaan ibumu itu, hahh…?? Kami tidak akan mengabulkan pintamu itu. Kau harus membayar semua biaya yang pernah kami keluarkan. Makanya kami menjadikan kau buruh di pabrik tepung kami.”jelas Rina, ibu Bagus dengan pedas pada Rufah yang menyembah kaki Bagus saat itu.
Malam begitu sunyi ketika semua telah terlelap dan Rufah sedang merenung, meratapi nasibnya. Suara pintu yang terbuka terdengar olehnya, ternyata dialah sang suami yang selama beberapa bulan ini tak memberikan sedikitpun kasih sayang untuknya kecuali pada malam pertama pernikahan mereka. Bagus menghampiri Rufah, dengan lembut dia bersikap pada Rufah, dia meminta maaf atas segala kesalahannya. Dengan kelembutannya dia berhasil membujuk Rufah untuk berhubungan badan lagi dengannya. Malam hampir berlalu, setelah puas dengan apa yang ingin dilakukannya, Bagus meninggalkan Rufah begitu saja. Rufah seolah dan mungkin dianggapnya sebagai pelacur atau istri simpanan yang harus dapat menanggung resiko bila dia akhirnya ditinggalkan. Bagus pergi dari rumah, entah hendak kemana dia. Rufah mungkin kini lebih kebal, tangisannya yang hanya setitik itu menggiringnya hingga terlelap tidur.
Tak lama berselang, tiba- tiba telah ada pula tangan yang memeluk tubuhnya lagi. Dia merasakan kehangatannya, berharap bila itu adalah Bagus. Namun sungguh dugaan yang salah, karena itu bukan bagus, melainkan mertuanya sendiri. Rufah membalikkan badan dan berteriak terkejut. Tangan Santoso membekapnya, dan tak ragu lagi untuk segera melancarkan aksi bejatnya itu. Malam itu menjadi hari yang benar – benar hari paling berat untuk Rufah. Rufah tak ingin pikir panjang lagi, setelah mertuanya itu pergi dari kamarnya, Rufah segera mengemas barang – barangnya. Dia lompat keluar dari jendela kamarnya, dia kabur dari neraka itu.
Malam menjadi begitu pekat, Rufah berlari ketakutan, nafasnya putus – putus. Dia menjejaki dan mengamati sudut demi sudut, mencari artefak – artefak peninggalan bau ibunya, dia mencari dimana rumahnya. Dia berjalan lurus kini, tak ingin menengok kebelakang, dia menemukan rumahnya yang tampaknnya lebih bagus dari beberapa bulan yang lalu. Rufah masuk dalam rumahnya, tampaknya memang tak dikunci oleh ibunya. Dia tiba – tiba terkejut mendapati ibunya yang tidur diruang tengah beralaskan tikar. Rufah menangis disamping ibunya, ibunya terbangun, “Ibu…ibu..kenapa ibu tidur beralaskan tikar seperti ini ? bukankah Rufah telah mengirimkan uang pada ibu setiap bulannya untuk keperluan ibu sehari – hari. Tapi kenapa rumah kita seperti ini bu, ibu tampak kurus, dan mengapa tiada lagi terlihat harta benda yang sedikit berharga disini ? ibu kenapa bu ?”sambil menangis, dia memeluk ibunya. Ibunya tak sungkan untuk mengatakan sebenarnya, bahwa dirinya kalah bermain judi dan kini berhutanglah dia pada Tuan Selamet. “Maafkan..maafkan ibu nak !! uang yang kau kirim itu memang ibu gunakan untuk keperluan ibu, untuk membeli barang – barang berharga juga, tapi kemudian sisanya, tidak ibu tabung, ibu gunakan untuk bermain judi. Dan ibu kalah judi nak. Ibu berhutang pada Tuan Selamet, ibu belum bisa membayarnya. Barang – barang yang kita miliki tak sanggup untuk menggantinya. Lalu, ada appa denganmu nak ?? mengapa kau pergi ke rumah ibu. Kau juga tak berbeda. Apa yang terjadi nak ?” Rufah menceritakan semua yang dia alami kepada ibunya. Dan jadilah mereka menangis pilu semalam berdua.
Paginya, setelah semalam Rufah tertidur lelap karena tak sanggup menahan letihnya, datanglah seseorang yang memang sangat ditakuti kedatangannya oleh Aminah. Selamet datang bersama dua algojonya, meminta Aminah untuk melunasi hutang – hutangnya, karena batas waktu yang telah diberikan Selamet telah jatuh tempo. Selamet begitu menggebu mengeluarkan segala amarah yang ada dalam hatinya. Aminah ketakutan, namun satu hal lagi akhirnya yang tak dapat disangka dan dinyana oleh Rufah. Ibunya segera menawarkan jasa barter pada tuan Selamet. Aminah rela menukarkan anaknya sebagai tebusan dari segala hutang – hutangnya, dan dia berjanji akan segera membayarnya, sehingga anaknya pun segera pulang kembali bersamanya, “Mmmmaa…maafkan saya tuan..!! saya janji akan segera melunasi hutang – hutang saya dalam waktu dekat. Beri saya waktu sedikit lagi tuan…”mohon Aminah pada Tuan Selamet. “Sayangnya kali ini aku tidak dapat mengabulkan permohonanmu Aminah. Sudah cukup aku memberikan banyak waktu padamu untuk melunasi hutang – hutangmu. Tapi kau licik ! kau tak pernah beritikat baik untuk melunasi hutang – hutangmu. Kini aku akan melelang gubukmu ini pada orang lain, dan bila tak ada yang berminat untuk membelinya, aku akan membakarnya dank au akan aku pekerjakan di rumahkku. Atau sekalian saja aku bunuh.”murka Selamet. Aminah segera menyembah kaki tuan Selamet, “Ampun tuan..ampun… jangan lakukan itu tuan… tapi, apakah anak saya dapat menggantikan saya ?”kata Aminah. “Apa maksudmu ?”tanya Selamet. “Maksud saya, apakah anak saya bisa dijadikan sebagai benda untuk mengganti hutang – hutang saya pada tuan ? saya akan menebusnya jika saya telah mendapatkan uang.” Usul Aminah itu dikabulkan oleh Tuan Selamet.
Rufah hanya terisak, tangisannya tersendat – sendat. Barangkali hanya mengelus dada yang paling dapat ia lakukan. Entah bodoh atau memang wataknya yang tak jauh dari ibunya yang bejat itu, Rufah rela pula dibawa dua algojo Selamet. Hingga itu, Aminah tak berminat lagi untuk melunasi hutang – hutangnya pada Selamet. Entah bagaimana nasib Rufah ditangan Selamet itu. Namun tak kalah naas untuk Aminah. Bagus dan keluarganya mencari Rufah ke rumah Aminah. “Hei Aminah..dimana Rufah anakmu kau sembunyikan ? dia telah kabur dari rumahku, tanpa seizinku. Cepat katakan dimana Rufah, Aminah ?”bentak Bagus pada Aminah. Aminah bercerita semuanya pada Bagus, namun Bagus tak menanggapinnya. Toh tiada rotan, akar pun jadi, pikirnya. Bagus membawa Aminah ke rumahnya, Aminah diperlakukan layak Rufah sewaktu dulu. Namun Aminah dipekerjakan lebih keras meski umur dan kesehatannya tak memungkinkan. Bagus tak perduli. Dua bulan Aminah bekerja menjadi buruh diperusahaan keluarga Bagus, hingga suatu hari Aminah tak sanggup lagi menahan hidupnya. Dia menghembuskan nafas terkhirnya ketika dia tak sanggup lagi untuk menahan rasa laparnya semenjak dua hari sebelumnya dia hanya makan sepiring nasi tanpa lauk di rumah Bagus.